Followership (teori)

Keummatan (followership)

Sebelum kita berbicara tentang followership, perlulah kita untuk memahami konsep tentang 5 tahapan cara berpikir atau tingkatan mentalitas. Konsep ini sering dibahas dalam literatur pengembangan diri dan manajemen kepemimpinan (leadership). Meskipun istilahnya bervariasi tergantung penulisnya (seperti Robert Kiyosaki, John Maxwell, atau pakar produktivitas lainnya), secara esensial tingkatan ini menggambarkan evolusi dari seseorang yang hanya menerima instruksi hingga menjadi pengambil keputusan strategis.

Berikut adalah uraian literatur mengenai 5 tahap cara berpikir tersebut:

  1. Leader (Pemimpin)

Tahap tertinggi dalam struktur berpikir. Seorang leader tidak lagi fokus pada “bagaimana” (how) melakukan sesuatu, melainkan pada “mengapa” (why) dan “siapa” (who).

  • Fokus: Visi jangka panjang, pengaruh, dan pemberdayaan orang lain.
  • Cara Berpikir: Strategis dan antisipatif. Mereka menciptakan sistem dan budaya, bukan hanya mengikuti arus.
  • Literatur Terkait: The 21 Irrefutable Laws of Leadership oleh John C. Maxwell.
  1. Manager (Manajer)

Berbeda dengan leader, manajer fokus pada “bagaimana” (how) mengelola sumber daya yang ada agar efisien.

  • Fokus: Efisiensi, kontrol, dan organisasi.
  • Cara Berpikir: Taktis. Mereka berpikir tentang cara mengoptimalkan sistem yang sudah dibuat oleh pemimpin agar mencapai target yang ditetapkan.
  • Literatur Terkait: The Effective Executive oleh Peter Drucker.
  1. Fighter (Pejuang)

Mentalitas ini sering dikaitkan dengan entrepreneurship atau individu yang memiliki drive tinggi. Mereka adalah orang-orang yang berorientasi pada hasil/eksekusi.

  • Fokus: Mengatasi hambatan, kerja keras, dan memenangkan persaingan.
  • Cara Berpikir: Agresif dan solutif. Mereka tidak mudah menyerah saat sistem atau rencana tidak berjalan sesuai harapan.
  • Literatur Terkait: Extreme Ownership oleh Jocko Willink.
  1. Operator / Janitor (Pelaksana/Teknis)

Dalam literatur manajemen, ini adalah tahap di mana seseorang bertindak sebagai pelaksana teknis yang memastikan operasional harian tetap berjalan.

  • Fokus: Rutinitas, standar prosedur (SOP), dan ketepatan teknis.
  • Cara Berpikir: Prosedural. Mereka berpikir untuk menyelesaikan tugas spesifik yang diberikan sesuai dengan panduan yang ada.
  • Catatan: Istilah “Janitor” sering digunakan secara metaforis untuk mereka yang bertugas “membersihkan” masalah teknis kecil di lapangan agar tidak menjadi besar.
  1. Follower (Pengikut)

Tahap awal di mana seseorang belajar untuk mengamati dan menyerap informasi sebelum mampu mengambil keputusan mandiri.

  • Fokus: Belajar, kepatuhan, dan adaptasi.
  • Cara Berpikir: Pasif-reaktif. Mereka menunggu instruksi atau mengikuti teladan dari figur di atasnya.
  • Literatur Terkait: The Courageous Follower oleh Ira Chaleff (yang membahas bagaimana menjadi pengikut yang tetap memberikan nilai tambah).

Ringkasan Perbandingan Cara Berpikir

Hirarki ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tahapannya, semakin besar tanggung jawab dan kompleksitas masalah yang dihadapi (seperti hadits yang kita bahas sebelumnya mengenai setiap orang adalah pemimpin).

Setelah membahas konsep di atas, sekarang bahas tentang followership.

Apa Itu Followership?
Secara sederhana, followership adalah: peran, sikap, dan perilaku seseorang sebagai “pengikut” dalam mendukung, mengkritisi, dan berkontribusi terhadap kepemimpinan.

Jadi, followership bukan sekadar:

  • “ikut-ikutan”
  • “patuh tanpa berpikir”

Tetapi: bagaimana seseorang menjadi pengikut yang aktif, sadar, dan bertanggung jawab.

Insight Penting
Selama ini, banyak orang fokus belajar: bagaimana jadi pemimpin
Tapi lupa bahwa… organisasi, tim, bahkan keluarga—lebih banyak diisi oleh “pengikut” daripada pemimpin.

Artinya: kualitas sebuah sistem tidak hanya ditentukan oleh leader, tapi juga oleh follower-nya.

Apakah Ada Teori tentang Followership?

Ya, ada. Bahkan cukup berkembang dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan.
Berikut beberapa teori utama yang sering digunakan:

  1. Teori Robert Kelley (Followership Styles)

Ini salah satu teori paling terkenal. Kelley membagi follower berdasarkan 2 dimensi:

      • kemampuan berpikir kritis
      • tingkat keaktifan (engagement)

5 Tipe Followership menurut Kelley:

      • Passive Followers: tidak kritis, tidak aktif, hanya menunggu perintah
      • Conformist Followers: aktif, tapi tidak kritis, ikut saja tanpa bertanya
      • Alienated Followers: kritis, tapi tidak aktif, sering sinis, tapi tidak berkontribusi
      • Pragmatic Followers: tengah-tengah, menyesuaikan kondisi
      • Effective Followers (Ideal): kritis, aktif: berpikir mandiri, tapi tetap mendukung pemimpin

Kesimpulan Kelley: Follower terbaik bukan yang paling patuh, tapi yang aktif dan berpikir kritis.

2. Teori Ira Chaleff (Courageous Followership)

Chaleff menekankan bahwa follower yang baik harus punya keberanian.

Intinya:
Follower tidak hanya: mendukung pemimpin

Tapi juga harus berani: mengkritik jika salah, menolak jika tidak benar, menyuarakan kebenaran

4 Peran Utama menurut Chaleff:

      • Mendukung pemimpin
      • Mengambil tanggung jawab
      • Berani menantang (challenge)
      • Berpartisipasi dalam transformasi

Insight:

Loyalitas sejati bukan membenarkan semua hal,
tapi menjaga agar pemimpin tetap berada di jalan yang benar.

3. Teori Barbara Kellerman (Engagement Levels)

Kellerman melihat follower dari sisi tingkat keterlibatan (engagement).

5 Level Followership:

      • Isolates → tidak peduli
      • Bystanders → tahu, tapi diam
      • Participants → mulai terlibat
      • Activists → aktif mendukung/menentang
      • Diehards → sangat loyal (bahkan ekstrem)

Insight:

Masalah terbesar bukan follower yang buruk…
tapi yang diam dan tidak peduli.

Makna Lebih Dalam (Reflektif)

Kalau kita tarik ke kehidupan sehari-hari…
Followership itu ada di mana-mana:

a. dalam organisasi
b. dalam komunitas
c. bahkan dalam keluarga

Contoh Nyata:
Anak terhadap orang tua
Istri terhadap suami (dalam konteks kepemimpinan rumah tangga)
Anggota tim terhadap leader

Pertanyaan Reflektif:
Apakah kita follower yang pasif?
Atau hanya ikut tanpa berpikir?
Atau sudah menjadi follower yang aktif dan bertanggung jawab?

Penutup:

Followership yang Berkualitas

Selama ini kita diajarkan: “Jadilah pemimpin.”

Namun jarang diajarkan: “Jadilah pengikut yang berkualitas.”

Padahal… pemimpin hebat lahir dari pengikut yang hebat.

Closing Kuat
Kepemimpinan yang kuat butuh pengikut yang berani.
Karena tanpa followership yang sehat… kepemimpinan bisa tersesat.