Jangan Engkau Urai Apa yang Telah Engkau Rajut
Ketika Ramadhan Berlalu, dan Ujian Sebenarnya Dimulai
Yang Sering Tidak Disadari Pasca Ramadhan
Gempita Idul Fitri telah berlalu, dan kini kita berada di bulan-bulan pembuktian. Namun, sadarkah kita bahwa sering kali ada kepuasan semu yang menghinggapi hati? Kita merasa telah “lulus”, lalu tanpa sadar melonggarkan ikat pinggang ketaatan. Bukankah ironis, saat masjid yang kemarin penuh sesak kini mulai lengang, dan Al-Qur’an yang kemarin akrab di tangan kini mulai berdebu di rak?
Apakah Ramadhan kemarin hanyalah sebuah seremoni tahunan, ataukah ia benar-benar sebuah transformasi jiwa? Mengapa qiyamul lail yang kemarin begitu syahdu kini terasa begitu berat untuk ditegakkan kembali? Begitu pula dengan Mushaf Al-Qur’an kita, mengapa ia yang sebulan penuh di Ramadhan kemarin begitu akrab di genggaman, namun kini mulai kembali terasing. Inilah jebakan kelalaian, merasa telah sampai di garis finish, padahal perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Jangan Diurai Apa yang Telah Dirajut
Allah SWT memberikan sebuah perumpamaan yang sangat dalam dalam Surah An-Nahl ayat 92:
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali…”
Bayangkan seseorang yang telah menghabiskan waktu sebulan penuh, dengan susah payah dan lelah letih, merajut selembar kain taqwa yang indah dari benang-benang amal shalih. Namun, begitu kain itu selesai, ia justru menarik ujung benangnya hingga rajutan itu hancur berantakan. Bukankah itu sebuah kegilaan? Lalu, bagaimana dengan kita? Kita telah merajut kain taqwa dengan kesabaran, tilawah, sedekah, dan bangun malam selama tiga puluh hari. Lantas, haruskah semua itu terurai hanya karena kita kembali memperturutkan syahwat pasca Ramadhan?
Memperturutkan syahwat mengindikasikan bahwa sikap wara’nya telah memudar dan memudarnya sikap wara’ (kehati-hatian) mengindikasikan ketakwaan seorang hamba juga memudar. Mengapa demikian? Karena sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani dalam kitab Al-Mufradat Fi Gharibil Qur’an bahwa kata التقى artinya adalah menjadikan diri terpelihara dari sesuatu yang menakutkan, dan ini adalah hakikat makna taqwa. Kemudian rasa takutpun dijadikan sebagai sebuah ketakwaan, dengan demikian maka kata التقى juga berarti takut. Dari penjelasan tersebut maka kita bisa fahami bahwa makna takwa mengerucut pada makna takut sedangkan rasa takut akan menghadirkan rasa kehati-hatian (wara’) dari apa-apa yang bisa membinasakan. Maka memudarnya kehati-hatian berarti memudarnya ketakwaan.
Untuk itu dibutuhkan suatu sifat khasnya seorang mukmin yang bisa menjaga kemuliaannya yang pada hari inipun banyak kaum muslimin yang kurang memperhatikan sifat ini. Sifat yang dimaksud adalah sifat ‘iffah.
Urgensi Sifat ‘Iffah
Salah satu penjaga utama agar rajutan taqwa tidak terurai adalah ‘Iffah. Secara lughah (bahasa), ‘iffah (عفة) berasal dari kata ‘affa-ya’iffu-‘iffah yang berarti menahan diri, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, demi menjaga kehormatan jiwa. Sedang-kan secara terminologis, ‘iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya.
Tanpa ‘iffah, seorang hamba akan mudah terseret arus lingkungan dan fitnah. ‘Iffah adalah benteng. Ia bukan sekadar menahan diri dari yang haram, tapi juga menahan diri dari kemalasan dan rasa cukup atas amal yang sedikit. Tanpa penjagaan diri yang ketat, kemuliaan yang kita raih di bulan suci Ramadhan akan luntur seketika tersapu badai fitnah syahwat dunia.
Dari Ibnu Mas’ud radhi-yallahu ‘anhu, beliau berkata,
أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina”.” (HR. Muslim no. 2721)
Jika kita coba mentaffakuri doa di atas, empat perkara yang dimintakan antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Pertama meminta huda atau petunjuk. Dengan huda kemudian menetapinya maka akan menghantarkan seorang hamba pada permintaan yang kedua yakni ketakwaan (lihat QS.47:17). Kemudian agar ketakwaan yang telah digapai dengan susah payah tidak memudar begitu saja maka perlu ‘Afaf atau ‘Iffah yang menjadi perkara ketiga yang dimintakan. An Nawawi rahimahullah mengatakan, “ ’Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (Syarh Muslim, 17/41). Dan yang keempat memohon al ghina. Al Ghina sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam An Nawawi akan menguatkan ‘iffah. Karena seringkali seorang hamba melanggar batasan Allah itu dimulai dari hati yang tidak merasa cukup sehingga memaksakan diri untuk mencari jalan pintas untuk memenuhi syahwatnya.
Kiat-kiat Menguatkan ‘Iffah
Diantara ikhtiar untuk menguatkan ‘iffah adalah dengan merenungkan beberapa perkara berikut:
1. Mentadabburi QS.57:13-15
Dalam rangkaian ayat ini Allah menggambarkan bagaimana percakapan antara kaum mukmin dengan kaum munafik ketika menyebrangi shirath. Dimana kaum munafik memanggil kaum mukmin dan meminta untuk menunggunya agar mendapatkan bagian cahayanya karena cahaya kaum munafik telah dipadamkan Allah sehingga sulit untuk melintasi shirat. Kaum munafik memohon belas kasihan “Bukankah kami dahulu bersama kamu?” Kemudian kaum mukmin menjawab “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri (fatantum anfusakum), dan kamu hanya menunggu, meragukan (janji Allah) dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah; dan penipu (setan) datang memperdaya kamu tentang Allah”. Dalam tafsir Ibnu Katsir surah Al Hadid ayat 14, sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud tentang firmanNya: (sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan mereka) dia berkata hal itu sesuai dengan amal perbuatan mereka masing-masing. Mereka berjalan di atas shirat, di antara mereka ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang seperti pohon kurma, dan ada yang seperti seorang lelaki yang berdiri, dan orang yang paling rendah cahayanya dari mereka adalah yang sebesar ibu jarinya, yang terkadang menyala dan terkadang padam.
Dari penjelasan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anh di atas harusnya menyadarkan kita untuk bersungguh-sungguh menjaga keimanan dan memperbanyak amal shalih. Salah satu kiatnya adalah dengan menebalkan sifat ‘iffah. Dengan sifat ‘iffah seorang mukmin bisa lebih terjaga dari bermalas-malasan dan bisa lebih menjaga diri dari kemaksiatan karena setiap kemaksiatan akan meredupkan bahkan bisa memadamkan cahaya iman. Sebagaimana keterangan di surah Al Hadid ayat 14 di atas bahwa sebab munafiknya seseorang salah satunya adalah fatantum anfusakum, mencelakakan diri dengan bermudah-mudahan melakukan kemaksiatan karena lebih mengedepankan hawa nafsunya sehingga memadamkan iman dan memadamkan cahayanya di akhirat.
2. Merenungi Sakaratul Maut
Selanjutnya perkara yang bisa menebalkan ‘iffah adalah dengan merenungkan kisah sakaratul maut seperti yang dialami oleh Imam Ahmad bin Hanbal yang dikisahkan oleh putranya berikut ini.
Kejadian hadirnya setan di hadapan orang yang sakaratul maut pernah dialami langsung oleh Imam Ahmad bin Hanbal, seperti yang dikisahkan oleh putranya Abdullah bin Ahmad. Jelang Sang Imam wafat, Abdullah bin Ahmad berada di sampingnya seraya bersiap memegang kain untuk mengikat kedua rahangnya. Sang Imam tampak berkeringat. Disangka sudah mengembuskan nafas terakhir, ia kemudian kembali tersadar dan berucap, “Tidak, menjauhlah! Tidak, menjauhlah!” Ia mengatakan itu hingga berkali-kali. Oleh Abdullah bin Ahmad, Sang Imam ditanya, “Wahai ayah, apa yang engkau inginkan dari perkataan itu?” Sambil terbata-bata, ia bercerita, “Tadi setan berdiri di sampingku sambil menggigit jari-jarinya. Ia berkata, ‘Wahai Ahmad, aku kehilanganmu (tak sanggup menyesatkanmu).’ Aku menjawab, ‘Tidak, menjauhlah! Tidak menjauhlah!’” Demikian pula ketika Imam Abu Ja‘far wafar, orang-orang yang menghadirinya berkata, “Ucapkanlah: ‘La ilaha illallah!’” Namun, Sang Imam malah menjawab, “Tidak! Tidak!” Tatkala tersadar, mereka bercerita dan Sang Imam menjelaskan, “Tadi aku kedatangan setan di sebelah kanan dan kiriku. Salah satunya berkata, ‘Meninggallah engkau dalam keadaan memeluk Yahudi, sebab ia adalah agama terbaik.’ Yang lainnya juga berkata, ‘Meninggallah dalam keadaan memeluk Nasrani, sebab ia adalah agama terbaik.’ Maka dari itu, tadi aku mengatakan, ‘Tidak! Tidak!’” Ketika Allah menghendaki akhir seorang hamba dalam keadaan baik, maka Dia akan menurunkan rahmat melalui malaikat Jibril. Dengan turunnya malaikat Jibril, wajah si hamba akan diusap dan segala yang meliputinya akan hilang. Di saat yang sama, dua setan yang berusaha menggodanya akan terusir. Menurut Imam Al-Ghazali, salah satu upaya mengundang turunnya malaikat Jibril di hadapan orang yang sedang sakaratul maut adalah mewudhukan orang tersebut. (Lihat: Syekh Abdul Wahab asy-Sya‘rani, Syarh Mukhtashar Tadzkirah al-Qurthubi, halaman 12).
Ibrohnya, jika dimasa sehat dan bugarnya kita tidak bersungguh-sungguh menjaga keimanan maka apakah mungkin ketika sakaratul maut yang rasa sakitnya luar biasa itu kita masih memikirkan keimanan? Maka mari, selagi masih diberi kesehatan dan kekuatan, kita bersungguh-sungguh menjaga keimanan kita dengan bersemangat beramal dan menjauhi segala potensi kemaksiatan semampu kita. Semoga dengan kesungguhan kita menjaga keimanan dimasa afiyah akan mendatangkan taufiq Allah untuk terlindungi dari fitnah ketika sakaratul maut nanti. Aamiin
3. Lebih Waspada Ketika Sendiri
Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Dari hadits di atas harusnya menjadi peringatan keras bagi kita semua untuk tidak berbuat munafik secara amal seperti hadits di atas. Menampakkan keshalihan ketika di keramaian namun menjadi pecandu maksiat ketika dalam kesendirian. Maka pentingnya sifat ‘iffah apalagi ketika sendiri akan menyelamatkan dari kerugian besar di akhirat nanti, agar pahala amal shalih yang susah payah diusahkan ketika di dunia tidak menjadi debu yang berterbangan.
Penutup: Waspada dalam Kenyamanan
Akhirnya, saudaraku, musuh terbesar kita bukanlah kesulitan yang memaksa kita menyerah, melainkan kenyamanan yang membuat kita lupa berdiri. Kita harus menyadari sebuah kebenaran yang pahit: bahwa bagi seorang pejuang iman, rasa nyaman sering kali adalah racun yang bekerja dalam senyap. Ia tidak membunuh seketika, namun ia melumpuhkan kewaspadaan, mematikan rasa bersalah, dan perlahan-lahan mengurai rajutan taqwa yang telah kita pintal dengan air mata di bulan Ramadhan.
Ramadhan telah melatih kita dalam keterbatasan, namun ujian sesungguhnya adalah saat semua keterbatasan itu diangkat. Apakah kita akan meminum racun kenyamanan itu hingga kita mabuk dan lupa daratan, ataukah kita tetap memegang kendali ‘iffah?
Jangan biarkan jerih payah menahan lapar dan haus selama Ramadhan menguap begitu saja karena lalainya kita mengendalikan syahwat. Jangan biarkan cahaya iman yang sudah mulai benderang di hati, redup perlahan karena kita kembali menjadi ‘pecandu maksiat’ saat tak ada mata manusia yang melihat.
Ingatlah, Allah tidak hanya melihatmu di tengah kermaian, tapi Dia juga menatapmu di balik layar gawaimu dan di kesunyian malammu. Mari kita jaga ‘iffah ini sekuat tenaga. Sebab, bukankah sangat menyakitkan jika kelak di hadapan-Nya, gunung amal yang kita banggakan justru terbang menjadi debu karena kita gagal menjaga kehormatan saat sendirian?
Waspadalah saat engkau merasa aman, karena di titik itulah keruntuhan sering kali bermula. Semoga Allah menetapkan hati kita dalam ketaatan hingga nafas terakhir tiba. Aamin.”
